“ Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku begitu lelah dengan permainan perasaan ini. Jika aku harus memilih, maka aku akan memilih yang halal bagiku dan yang memberi aku tujuan. Tapi kini aku seperti tak mngenali siapa aku. Apa aku sudah kembali kemasa dimana aku harus terjebak dalam penantian kosong” bisik hatinya sambil tetap memandangi awan hitam yang semakin meraja di langit. Tiupan angin yang dingin membuat Susana hatinya semakin renyuh,remuk seperti meremas kerupuk. Sakit dengan ketikadilan, jatuh karena perasaan, luka karena pikiran. Tapi ini benar nyata adanya, bukan rekayasa buwalan imajenasi saja.. Menyesal tidak ada guna, tapi bagaimana berusaha untuk keluar dan mendapatkan halalnya. Berjalan seperti yang digariskan ketika dari kandungan.
Dia terus berfikir dan berfikir. Berusaha lari keluar dari penjara hati,akan tetapi bius derita terus menggerogoti, yang perlahan membunuh akal sehatnya.Tak pernah terfikir hal ini sebelumnya. Sakit teramat dalam seperti luka tersiram air garam. Menusuk hingga hulu hati karena bimbang dipersimapangan cerita aku, dia dan halalku. Ingin rasanya bersembunyi. Ingin rasanya ia hilang ingatan. Ingin ia menangis sejadi-jadinya. Ingin ia mengucapkan itu padanya, ingin ia mengetahui apakah sama yang mereka rasa. Dan setelah tanya itu terjawab, mungkin Dia akan tenang, damai dan paham siapa dirinya, hingga ia mampu mengutip potongan hatinya untuk halalnya. Ingin Dia mencintai halalnya. Ingin Dia jalan dijalannya. Ingin Dia dan dia kembali seperti Dia dan mereka dan Dia serta halalnya hidup juga seperti mereka. Dia, halal dan dia adalah kebimbangan yang harus Dia pilih demi mencari apa yang ia cari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar