![]() |
Ketika jari mulai beradu dengan papan keyboard, ketika si penjelajah dunia mulai membuka jendelanya, maka mulailah beranda terbuka melihat warna dunia maya tempat mencurahkan informasi dari dalam diri, termasuk aku. Sebenarnya hati saat ini sedang galau, sindrom ETT (Emosi Tingkat Tinggi) menyerang software di otakku. Ingin marah, teriak, mencurahkan semua gairah emosi ini dengan update status yang penuh dengan setumpuk kemarahan. Berharap dia membacanya dan akhirnya tau kalau aku tidak terima dengan apa yang ia goreskan sehingga temperatur dihatiku meningkat.
Niatku berubah ketika aku melihat apa yang difikirkan seorang teman dalam status. “Sakit hati seperti menorehkan pensil di atas kertas putih, walaupun sudah dihapus tetapi bekasnya masih akan tetap terlihat”. Ya kuarang lebih seperti itulah isinya. Berulang kali aku membacanya. Mengkoneksikan ungkapan itu dengan rasa sakit yang aku alami saat ini. membuat aku berfikir kalau maaf itu benar - benar mahal harganya untuk seukuran egoku. Bahkan aku sempat berfikir untuk membalas pinalti yang dia buat hingga menjebol gawang pertahan hati kecilku. Aku berfikir untuk berubah menjadi orang jahat dan memutar otak untuk mendisain rencana apa yang harus aku perbuat untuk membuatnya merasakan apa yang aku rasakan. Karena aku tau walau sudah ku hapus sakit itu, bekasnya masih akan tetap ada, yang akan menjadi boomerang dalam kesakitanku.
Aku terus berfikir dan berfikir sehingga akhirnya aku merasa bodoh, menjadi gila dan saraf di otakku mulai melilit hingga malah berbalik mencederai diriku sendiri. Sepertinya aku sudah dikalakan oleh si penyakit hati. Segera aku memberi kartu merah, dan mendeportasinya dari hati, jiwa dan pikiranku. Barulah aku sedikit merasa longgar dibagian dadaku. Sebenarnya jika aku ihklas dan menggunakan penghapus yang ampuh yaitu imanku, maka sakit itu akan terhapus tanpa meninggalkan bekas. Aku tidak harus berubah menjadi orang yang jahat untuk membalasnya, tapi aku butuh ihklas sebagai obat penawarnya. Walaupun sulit dan tak seratus persen ku peroleh ilmu ihklas itu, setidaknya satu senyuman membuatnya mengucapkan MAAF padaku.

