Kamis, 22 Desember 2011

Orek Orek Hati “Sulitnya Ilmu Ihklas”


Ketika jari mulai beradu dengan papan keyboard, ketika si penjelajah dunia mulai membuka jendelanya, maka mulailah beranda terbuka melihat warna dunia maya tempat mencurahkan informasi dari dalam diri, termasuk aku. Sebenarnya hati saat ini sedang galau, sindrom ETT (Emosi Tingkat Tinggi) menyerang software di otakku. Ingin marah, teriak, mencurahkan semua gairah emosi ini dengan update status yang penuh dengan setumpuk kemarahan. Berharap dia membacanya dan akhirnya tau kalau aku tidak terima dengan apa yang ia goreskan sehingga temperatur dihatiku meningkat.
Niatku berubah ketika aku melihat apa yang difikirkan seorang teman dalam status. “Sakit hati seperti menorehkan pensil di atas kertas putih, walaupun sudah dihapus tetapi bekasnya masih akan tetap terlihat”. Ya kuarang lebih seperti itulah isinya.  Berulang kali aku membacanya. Mengkoneksikan ungkapan itu dengan rasa sakit yang aku alami saat ini. membuat aku berfikir kalau maaf itu benar - benar mahal harganya untuk seukuran egoku. Bahkan aku sempat berfikir untuk membalas pinalti yang dia buat hingga menjebol gawang pertahan hati kecilku. Aku berfikir untuk berubah menjadi orang jahat dan memutar otak untuk mendisain rencana apa yang harus aku perbuat untuk membuatnya merasakan apa yang aku rasakan. Karena aku tau walau sudah ku hapus sakit itu, bekasnya masih akan tetap ada, yang akan menjadi boomerang dalam kesakitanku.
Aku terus berfikir dan berfikir sehingga akhirnya aku merasa bodoh, menjadi gila dan saraf di otakku mulai melilit hingga malah berbalik mencederai diriku sendiri. Sepertinya aku sudah dikalakan oleh si penyakit hati. Segera aku memberi kartu merah, dan mendeportasinya dari hati, jiwa dan pikiranku. Barulah aku sedikit merasa longgar dibagian dadaku. Sebenarnya jika aku ihklas dan menggunakan penghapus yang ampuh yaitu imanku, maka sakit itu akan terhapus tanpa meninggalkan bekas. Aku tidak harus berubah menjadi orang yang jahat untuk membalasnya, tapi aku butuh ihklas sebagai obat penawarnya. Walaupun sulit dan tak seratus persen ku peroleh ilmu ihklas itu, setidaknya satu senyuman membuatnya mengucapkan MAAF padaku.

  "Medan on Monday at December 12  in 2011  at:01:26 PM"

Orek Orek Hati “Aku, Dia dan Halalku”

                  Sore itu sekitar pukul setenga enam sore, Dia terbangun dari tidur siangnya. Diarahkan pandangannya ke luar jendela. Dimana raja pencerah kini tahluk di balik awan hitam. Langit begitu gelap. Sama dengan kebimbangan hatinya. Kini ia sulit mengenali siapa dirinya. Dia selalu bertanya pada hati nya. apakah sumber ini semua adalah karena kedekatannya lagi dengan dia. Semenjak akhir akhir ini mereka bertemu kembali. Sadar atau tidak dosa akan menyapanya mulai dari hati ,pikiran,jiwa dan itu hanya ada dia. Hampir setiap detik yang ia lalui hanya dia. Beribu cara telah ia lakukan untuk mengusir dia dari ingatanya. Namun semakin di buang semakin sesak terasa dadanya. Dia hampir melupakan haknya sendiri. Hak yang seharusnya ia jaga dan halal baginya. Hak yang selalu mengasihi dan mencintainya penuh dengan keiklasan.
“ Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku begitu lelah dengan permainan perasaan ini. Jika aku harus memilih, maka aku akan memilih yang halal bagiku dan yang memberi aku tujuan. Tapi kini aku seperti tak mngenali siapa aku. Apa aku sudah kembali kemasa dimana aku harus terjebak dalam penantian kosong” bisik hatinya sambil tetap memandangi awan hitam yang semakin meraja di langit. Tiupan angin yang dingin membuat Susana hatinya semakin renyuh,remuk seperti meremas kerupuk. Sakit dengan ketikadilan, jatuh karena perasaan, luka karena pikiran. Tapi ini benar nyata adanya, bukan rekayasa buwalan imajenasi saja.. Menyesal tidak ada guna, tapi bagaimana berusaha untuk keluar dan mendapatkan halalnya. Berjalan seperti yang digariskan ketika dari kandungan. 
Dia terus berfikir dan berfikir. Berusaha lari keluar dari penjara hati,akan tetapi bius derita terus menggerogoti, yang perlahan membunuh akal sehatnya.Tak pernah terfikir hal ini sebelumnya. Sakit teramat dalam seperti luka tersiram air garam. Menusuk hingga hulu hati karena bimbang dipersimapangan cerita aku, dia dan halalku. Ingin rasanya bersembunyi. Ingin rasanya ia hilang ingatan. Ingin ia menangis sejadi-jadinya. Ingin ia mengucapkan itu padanya, ingin ia mengetahui apakah sama yang mereka rasa. Dan setelah tanya itu terjawab, mungkin Dia akan tenang, damai dan paham siapa dirinya, hingga ia mampu mengutip potongan hatinya untuk halalnya. Ingin Dia mencintai halalnya. Ingin Dia jalan dijalannya. Ingin Dia dan dia kembali seperti Dia dan mereka dan Dia serta halalnya hidup juga seperti mereka. Dia, halal dan dia adalah kebimbangan yang harus Dia pilih demi mencari apa yang ia cari